Sabtu, 13 April 2013

Time Machine (Part 1) -- Introduce

Percayakah dengan adanya sebuah kebetulan? Ketika semua disetting dalam panggung drama yang Tuhan ciptakan tanpa kau ketahui. Semua tingkah laku bahkan semua rasa; amarah, ceria, senang, sedih, pertemanan, kebodohan, kekonyolan berputar seperti roda. Masa dimana semua akan menjadi kenangan, menjadi masa lalu yang tak mungkin terlupa. Iya, masa putih abu-abu; semacam susah ditinggalkan. Bahkan kejadian ini akan menjadi titik temu yang mengejutkan untuk perjalanan hidup Venus.

Seperti biasa para lady Venus enggan meninggalkan kegiatan yang bersifat mengobrol dan mengopi di cafe yang letaknya ditengah distrik Gangnam. Nuansa berunsurkan senja, cahaya matahari masih meruam disekitar tempat mereka berdiri sekarang. Salah satu dari mereka hanya bisa berteriak kesal karena sudah melewati antrian panjang kemacetan untuk sekedar memarkir mobil mereka, “Hyaa! Kenapa selalu saja mengantri”

“Sora-ya, Aku kira kau sudah terbiasa dengan segala keruwetan macam ini, ternyata masih berkoar juga” sahut Kang Paran dengan cengiran mautnya.

“Semoga para pelayan cafe bisa menurunkan aksi bad mood, Sora” timpal si gadis paling mungil Choi Ninri. Sekilas tampak  Kang Paran mengangguk-angguk sembari memelintir rambutnya dengan ujung jari-jarinya.

Tanpa banyak bicara lebih lanjut, lady Venus sudah berdiri didepan pintu seolah menunggu pintu café terbuka dengan sendirinya. Tak ayal, dengan segala kedramatisan, pintu itu terbuka lebar, memang tau betul siapa yang akan datang. 6 wanita yang digawangi oleh si cuek Kim Sora, beranggotakan Kang Paran, Choi Ninri, Jung Ji Eun, Park Hyurin, dan Song Nara ini bertampang entertaining berunsurkan disaster sparkling, menyilaukan mata setiap umat didalam café tersebut termasuk para pelayan café Shinhwa.

Dandanan ala glamor kontemporer selalu menghiasi masing-masing dari mereka. Pembawaan yang  lebih dewasa, dengan mini dress modern dipadu padankan dengan penggunaan kacamata hitam yang sesuai dengan karakter mereka dan sebagian lagi hanya memakai lensa kontak yang membuat penampilan mereka tampak lebih muda membuat  para pelayan dengan segala hormat menyambut mereka, berbeda dengan pelanggan yang lain. Venus bukan owner bukan juga pembeli, mereka hanya sekumpulan kecil wanita popular yang suka menjajah café Shinhwa, tak ingin disebut pelanggan setia.

Meja bundar bernomor 6 selalu menjadi pilihan Venus untuk berlama-lama disana hingga café tutup. Apa yang mereka cari? Siapa sebenarnya mereka dan untuk apa? Banyak pertanyaan yang muncul disetiap kedatangan mereka dihari itu dan jam itu ditiap minggunya. Komentar paling ganas adalah Venus merupakan fans fanatik pelayan café Shinhwa. Bagaimana tidak, sekarang mereka duduk dengan anggunnya. Pelayan mendatangi dengan ramah, mengelilingi mereka dengan sosok yang berwibawa.

Café Shinhwa terkenal dengan pelayan yang maha-welcome dan hanya 6 orang yang mengelolah café itu. Wajah mereka bukan seperti pelayan, sebagian pembeli mengira mereka adalah boyband gawanan SM Entertainment, dimana agensi itu adalah tempat semua artis Korsel bermuara. Sebagian lagi mengatakan bahwa mereka adalah model dengan lebel agensi western berkedok pelayan dan yang paling parah adalah mereka memang dilahirkan keren dan tampan kemudian bertemu pada titik kejenuhan menjadi orang yang paling digandrungi, lantas membuka café dengan profesi mereka saat ini, karena sosok mereka memang tak manusiawi.  Jelas saja, café mereka sangat lah ramai dan banyak penggemar.

Menu telah disodorkan pada masing-masing Venus. Diam sejenak, memandangi menu, kemudian menutupnya.

“Seperti biasa” Ji Eun menjentikkan jarinya. Pelayan hanya berdeham pelan lalu melenggang pergi kecuali pelayan dengan postur paling tinggi yang berada disamping Sora tampak menyerngit.
“Tidak ada menu tambahan, membosankan” ujar Sora selengekan.  Matanya sedikit melirik kearah pelayan disebelahnya. Ekspresinya sedikit menahan kesal lalu menghela panjang dan pergi. Sora dan yang lain tersenyum geli.

Sambil menunggu pesanan yang dikata Ji Eun “seperti biasa” tadi. Si tembem Nara sibuk mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya, tak lupa tangannya yang sering mengayun-ayunkan kamera poket kecil miliknya pertanda photomoment dimulai. Snap..snap..snap. Suara jepretan membuat teman-teman yang lain mengerang “aah…belum sempat berpose nih” celetuk Ninri dengan tampang sedikit kecewa.

“Aku punya ini..ayo kita nostalgila” suara lantang dari Nara membingungkan semua member Venus. Sebuah amplop coklat tampak penuh digenggaman tangan Nara yang kecil. Matanya yang bulat tampak menyipit saat dia mulai membuat penasaran. Hyurin melepas kacamata hitamnya, membaca terbata-bata setiap tulisan yang tertera diamplop lalu tercengang, “O-ur Sto-ry. Woo…..”

Tawa Nara meledak saat melihat ekspresi kaget teman-temannya, “Ya, didalam sini cerita kita dimulai. Semua moment yang kita lalui, moment suka duka bahkan skandal; semuanya tak pernah absen dari mata lensaku. Moment SMA ”. Tangan Nara memutar-mutar, membuka ujung amplop lalu dituang semua isinya hingga berceceran di meja bundar itu.

“Sebanyak ini kah, foto foto kita?” mata Ninri berbinar-binar.
“Jinjja? Lihat, bukankah ini foto pertama kita ditahun pertama sekolah dan ini kali pertama juga saat, Nara memiliki kameranya?” Paran tercengang saat tangannya mulai gemas mengambil satu foto paling ramai, foto bertuliskan ‘oppa moment’ diantara foto-foto yang lain. Yang paling jadul dan paling menggelikan baginya. Gambar itu mulai memutari yang lain. Tampang mereka antara lucu dan menahan tawa. Secara otomatis semburat pipi merah ditunjukkan oleh  Hyurin yang notabene pamalu disegala suasana.

*Flashback beggining*

“Kenapa kita membolos hanya demi ini!”  Hyurin sibuk meraung lantaran menunggu Nara mempersiapkan tripod dan memasang kamera barunya.
“Tsk, dasar anak rajin” sinis Sora, “Paran-a bisa kau ambilkan minumku, disini mulai panas”. Paran yang sedari tadi menikmati musim panas dibelakang sekolah, hanya bertampang santai dan pasrah menerima suruhan dari Sora, “Oke..oke”.
“Ayo..ayo semua berbaris disini, ya! dibawah pohon akan terlihat bagus sekali. Kamera pertama harus diisi dengan foto pertama Venus. Yuhuuu…” Nara mengarahkan teman-temannya dengan sangat ahli.
“Aku ditengah…aku ditengah” Ninri tiba-tiba menghambur membelah sisi tengah barisan, “Kau lupa siapa leadernya”, tatapan Sora melayang, menghujam Ninri yang terlanjur girang,
“Mian..hehe” 
“Poniku tidak terbelahkan?” semua sibuk dengan dandanan masing-masing termasuk Ji Eun yang kali pertama membuka suara karena sejak tadi dia sibuk dengan kacanya dipojokan, “Aigo! Hyurin-a! Lepas kacamata itu, kau tampak cupu sekali. Ini foto pertama kita. Kenapa ekspresimu seperti itu?” menunjuk kearah  Hyurin yang kini tampak murung.
“Seperti biasa, dia anak dengan record tak pernah membolos, sekalinya bergabung dengan kita, image-nya terjun bebas..haha!” guyonan Sora membuat  Hyurin semakin terpuruk.
“Bagaimana jika ada penjaga yang tau kita membolos lalu dibawa keruang treatment itu memalukan”
“Sudahlah nikmati musim panasnya” sahut Paran tetap santai.

Nara melihat kemballi posisi layar, mengatur timer dengan sangat pas. Memencetnya kemudian berlari kearah teman-temannya sambil berteriak “10 detik lalu teriakkan OPPAAA~~”
“OPPA???” semua tercengang.

3…2…1 tak banyak waktu, sontak ditengah kebingungan ‘kenapa harus berkata oppa?’ Venus tetap eksis dijepretan bertagline OPPA~~pertama mereka. Pose mereka tampak berberbeda-beda sesuai karakteristik mereka. Si Pemalu  Hyurin dengan kacamata cupu dan senyum malunya, Ji Eun si master fashion, bertahtakan jepit rambut warna warni disetiap inci kunciran rambutnya, si penurut Paran memegang kipas pink kesayangannya, image ceria Ninri,  dengan senyuman paling meriah yang pernah ada, Nara si fotografer berpose ‘saranghae’ dan Sora dengan gaya paling menggoda yang pernah ada.

“Semenggoda ini kah aku dulu?” tanya Sora dengan wajah tak berdosa.
“Seantero sekolah juga tau kalau kau playgirl” celetuk Ji Eun, seketika Sora pura-pura tak mendengar.
“Lantas, apa yang terjadi setelah foto ini?”
“Ketahuan penjaga dan kita dihukum. Nara sempat mengambil gambar saat kita dihukum. Ini…” suasana menjadi hening akibat kebodohan masa lalu.
“Pesanan, untuk meja nomor 6” salah seorang pelayan bersuara parau membuyarkan sejenak ingatan mereka tentang masa SMA. Berbagai jenis minuman beraneka warna dan cake manis tersebar menarik dimeja. Para pelayan sedikit tergelak lalu mengulum senyum melihat tumpukan foto tertimbun didepan mereka. Penasaran. Tak ingin tau lebih lanjut mereka cepat-cepat pergi melayani pembeli yang siap diisi makanan dalam perutnya.
“Terima kasih selamat sibuk tetap semangat, Oppa~” kata-kata penyemangat datang dari Ninri seperti biasanya.
“Genit woo genit!!” semua member Venus menggoda Ninri. Ninri tersipu malu.

Beberapa dari mereka menyeruput minumannya, sebagian lagi mulai memakan cream cake sesuap dua suap. Nara menunjukkan foto berikutnya dengan sangat antusias “Skandal kita diawali dari ini, musuh bebuyutan, lawan tanding eksistensi kita, Shinhwa”

“OMG…benar-benar sama dengan nama cafe ini” Ji Eun menahan tawanya. Semua mulai melirik satu sama lain kemudian fokus kearah foto yang dipegang oleh Nara. Foto itu menggambarkan betapa eksisnya geng mereka yang berhadapan dengan geng lawannya. Cengiran menghina datang dari kedua leader dari masing-masing geng. Ditengah-tengah muncul sosok pemuda dengan tampang frustasi yang membentangkan tangannya seakan ingin melerai mereka.
****
            Ocean Art High School masih megah dengan bangunan bermodel tradisional Korea, memang dikemas seperti itu. Simpel dan sederhana namun melahirkan murid-murid yang berpotensi dalam bidang seni. Seni kerajinan tangan, menari, melukis, fotografi, bermusik semua kumpul menjadi satu. Terlepas dari bakat mereka dan sistem pendidikan yang menuntut mereka menggali kreatifitasnya , ketimpangan dari segi manner sekelompok murid masih dipertanyakan disekolah ini, menjadikan warna tersendiri bagi memori mereka kelak. Popularitas dan eksistensi.
            Shinhwa seperti mendarah daging diwilayah Ocean Art, bagaimana tidak, kelompok yang paling player dan big liar ini selalu menjadi sorotan utama pemberitaan sekolah. Dibawahi oleh Eric si Leader dengan image play and bad boy, Junjin sebagai center dari ke-charming-an Shinhwa tapi sama nakalnya dengan Eric, penyuka bullying dan terakhir ada Minwoo dengan segala style M nya yang narsistis. Lengkap sudah penderitaan Ocean Art. Tandingan yang pas untuk Shinhwa adalah Venus. Enam wanita lawan tiga pria bukan masalah besar tapi makin menambah kehancuran tersendiri.

“Lihat, Hyung…aku berhasil mengabadikan war moment mereka. Ayo ikut aku, pasti sangat seru!” Kim Dongwan si fotografer mading sekolah, penebar isu-isu dan fakta yang ada disekolah dengan senyuman paling manis seantero sekolah mulai mengompor lalu melompat kegirangan pada ketua OSIS, Shin Hyesung sembari menyodorkan hasil jepretan ter-hot yang ia dapat.
“Aigo~~ kenapa mesti mereka lagi sih..” kedua tangannya menepuk keras dikepala membuat poni depannya tampak bergoyang.

Disisi lain, perang dingin masih berlangsung. Lorong sekolah hanya berisi Shinhwa dan Venus, saling tatap dan saling diam. Auranya seperti ingin membunuh satu sama lain. Sangat klasik. Disebelah mereka terpampang mading dengan judul terskandal dari Eric ‘Eric Shinhwa kembali membully Van Gogh Ocean Art’. Tanpa isyarat, tanpa membaca sedikitpun, masih dalam keadaan termangu saling menatap. Sora angkat bicara.
“Aku pikir, apa hebatnya membully Andy. Selalu saja mengerjai orang-orang yang lemah. Apa kau merasa iri dengan bakat melukisnya seperti Van Gogh, jabrik?”

Junjin dan Minwoo sontak menahan tawa melihat ekspresi kesal Eric yang dikata jabrik, membuat Eric sempat menyikut perut Junjin. Eric membengis, tangannya mulai terangkat satu, jarinya menunjuk kearah mading disebelah berita skandalnya, mengetuk kacanya. Tubuhnya yang jangkung sedikit menunduk berusaha mendominasi tubuh Sora yang kini melangkah mundur.
“Baca yang jelas. High-light….Pasangan Kim Sora dan Anak Kepala Sekolah Go Publish. Dasar playgirl!”
“Pabo-ya!!!”

Geraman dari Venus seakan menggetarkan lorong sekolah. Cekcok mulut detik itu juga terjadi. Ninri sibuk menyemangati leadernya yang makin memanas bersama Eric. Minwoo hanya terdiam dan sesekali menjulurkan lidahnya kearah Ji Eun. Paran dan  Hyurin masih takut-takut untuk beradu mulut sehingga yang dilakukannya hanya minggir dan mulai membaca mading. Kilau flash makin membuat keadaan memanas karena tiba-tiba datang beruntun dari kamera Nara. Kericuhan makin memanas saat Dongwan dan Hyesung turut andil dalam pertengkaran tak penting mereka. Bersamaan dengan itu semua, Hyesung berusaha melerai dengan frustasinya.

“STOOP!!!! Selalu saja seperti anak kecil!” pekik Hyesung. Kondisi hening sesaat. Shinhwa dan Venus memandangi Hyesung dengan tatapan tajam. Heningan hanya berlangsung sedetik.
 “HYAA!!!” Eric dan Sora meneriaki Hyesung dengan kencang. Mereka berdua memicingkan matanya, Hyesung menelan ludah. Hanya bisa menghela nafas dan menggeleng tak karuan. Dongwan dan Nara tersenyum puas melihat hasil tangkapan terakhir foto mereka. Adu mulut masih tetap berlanjut. Pose yang pas untuk ‘war moment’ benar-benar terpampang jelas dikamera Nara.
“Muka Hyesung antik sekali disini, kasian haha” ujar Ji Eun menertawakan foto kenangan bertuliskan ‘Musuh bebuyutan’
“Sebenarnya apa sih yang membuat kita selalu bertengkar tidak jelas?” pertanyaan menohok Ninri membuat member lain tersentak.
“Eum…mungkin karena unsur gengsi dan ketakutan diri kita akan eksistensi yang menurun sehingga pada pencapaian aktualisasi diri…”
“ Hyurin-ya….berhentilah memakai teori absurd” Paran memotong ucapan  Hyurin dengan ekstrem sambil mengayun-ayunkan sendok cakenya.
“Aku jadi makin penasaran soal jaman SMA kita selanjutnya. Soal Andy, dan diam diam aku mengabadikan moment ini..” Nara mengambil foto berikutnya. Foto yang ia jepret bertuliskan ‘Rescue Andy’. Gelak tawa mereka membahana lagi. Tampang Kang Paran langsung bersemu merah, ia berusaha menutupinya dengan kipasnya tapi masih tembus pandang.
“Andy waktu itu terlihat memalukan” komentar Paran.

Apa kisah selanjutnya? Kenangan apa lagi yang akan diulas dalam bingkai foto yang mereka kumpulkan selama 3 tahun?
TBC
            

Tidak ada komentar:

Posting Komentar